benang-benang kusut
yang terpintal dalam jiwa
menyelusup lubang-lubang
mengarungi angkasa
memungut bintang-bintang
yang mencuri cahaya
dari mataku
dari mulutku
dari telingaku
yang terperangkap kuasa
menyembah bayang-bayang
memaki serpih asa
menimang remang-remang
yang tersulam dalam doa
pada sehelai sutra rajut
Showing posts with label ini puisiku. Show all posts
Showing posts with label ini puisiku. Show all posts
29.8.17
22.8.17
Selesai
aku menatap bayangan tangan
jarinya bergerak lamban
meramu tumpukan kertas
ada fotoku tersenyum masam
dan tulisan tentang perpisahan
wajahnya kusut seperti ibu yang
kehilangan anaknya, berkerut-kerut
kugenggam pena hitam miliknya
kugambari kotak kosong serupa rumput
sebagai hadiah untuk meminta restu
tak ada maaf meski ia menyesal
dan doaku terkabul,
rekening tabunganku resmi ditutup
aku pulang dengan selamat
dompetku kekenyangan
urusan sudah selesai
jarinya bergerak lamban
meramu tumpukan kertas
ada fotoku tersenyum masam
dan tulisan tentang perpisahan
wajahnya kusut seperti ibu yang
kehilangan anaknya, berkerut-kerut
kugenggam pena hitam miliknya
kugambari kotak kosong serupa rumput
sebagai hadiah untuk meminta restu
tak ada maaf meski ia menyesal
dan doaku terkabul,
rekening tabunganku resmi ditutup
aku pulang dengan selamat
dompetku kekenyangan
urusan sudah selesai
Lingkaran
arus biru di atas kepalaku
berputar-putar seperti gasing
dikelilingi asap putih berantakan
makin cepat makin pusing
gendang telingaku pecah
air mata berteriak
patahan warna-warni
menyusupi angin dingin
lalu gelap dan sepi tumpah
pertanyaan terbit
seperti bulan purnama
aku tak pernah bisa tidur
dikerjai matahari
dan hari sudah pagi
gasing ada lagi
aku mati
berputar-putar seperti gasing
dikelilingi asap putih berantakan
makin cepat makin pusing
gendang telingaku pecah
air mata berteriak
patahan warna-warni
menyusupi angin dingin
lalu gelap dan sepi tumpah
pertanyaan terbit
seperti bulan purnama
aku tak pernah bisa tidur
dikerjai matahari
dan hari sudah pagi
gasing ada lagi
aku mati
13.8.17
170817
toa masjid ramai suara anak-anak
hari sudah siang, lomba-lomba hampir usai
tapi tidurku baru saja dimulai,
tak ada mimpi yang selesai
hari sudah siang, lomba-lomba hampir usai
tapi tidurku baru saja dimulai,
tak ada mimpi yang selesai
8.8.17
Parak
dalam kelambu malam
yang disobek-sobek hujan
aku bersembunyi dari mimpi
terbaring layu terhunjam sendu
berkelana menyelami rasa
di gigir urat-urat jiwa
runtuhan ingatanku jatuh
di selangkangan bumi
mati terbakar dendam
dan puing-puing umpatan
berlompatan seperti kilat
yang menyambar kesunyian
aku tanpa bayangan
menadi dalam tubuhmu
tapi tetap napasku membusuk
melayang bersama angan
lalu membunuh kebahagiaan
tiap-tiap manusia kesepian
2.8.17
Pertemuan
8.7.17
The Day I Think Of You No More
colors of
sky
pink,
yellow, blue, orange
white and
black
then
sun, moon,
stars
cloud,
rainbow, storm
wind and
light
all gone to
the hole,
a holy one
Stranger Soul
of the
corner town
shining
sound to every mind
you lit
underground
fast to fest
in fist
chase and
erase
run no
shadow
rest in
peace
without
memories
10.6.17
Ilalang
dan sungguh,
apa yang tersisa dari pembenci picisan
ke mana angannya harus terbang
membuang serbuk-serbuk melankolis
agar mati dalam bunga tidur
jika sesuatu yang tak pernah ada
bisa mengutuki kesepian,
lalu mengapa hanya pada ilalang
segalanya menjadi jujur?
7.6.17
Ingatan Bena
pulang,
mengembalikan koper
membawakan makanan kecil,
gantungan kunci dan pernak-pernik
rumah,
bau tanah basah
debu kasur dan udara pengap kamar kosong,
sarang laba-laba dimakan angin
dulu,
aku masih kecil dan pendek dan mudah menangis,
takut ke gudang sendirian
lalu tiba-tiba saja semua menciut, menyusut, menghilang.
atau aku yang bertambah besar?
20.5.17
8.4.17
Kabar dari Jauh
ibuku berkata
jika lapar minum air dulu
meski sebenarnya nasi sudah habis
dari kemarin
kami lalu tertidur
ramai-ramai di atas tanah retak
tidak ada yang menangis
semua terlanjur habis
mereka turut berduka
tapi apa gunanya
percuma, sia-sia
jika lapar minum air dulu
meski sebenarnya nasi sudah habis
dari kemarin
kami lalu tertidur
ramai-ramai di atas tanah retak
tidak ada yang menangis
semua terlanjur habis
mereka turut berduka
tapi apa gunanya
percuma, sia-sia
22.3.17
Ingatan, Mengawang di Angkasa
kita mengarsipkan diri
di keping-keping kenangan maya
lupa, sekarang hari apa.
Asmara
cerita yang selalu sama
semua teman bosan
duh, apalagi aku
katanya pasrah saja pada takdir
barangkali besok berakhir
duh, aku terlanjur tak peduli
meski diulang seribu kali lagi,
diri sendiri sudah terbiasa pada sepi
18.3.17
Pengakuan
kiranya sepasang pipi
tidak perlu menghiasi air mata basi
di antara sepi dan kelindan mimpi
ada hati yang ingkar
aku hanya ingin menikmati petang
meski tanpa rasa sayang
dan pulang
lalu mati dengan tenang
Cerita di Perantauan
mereka heran
katanya aku pemberani
padahal setan
di hati bersembunyi
sejak bayi
13.3.17
Failed Rainbow
to smile brightly,
in a rush
give the wrong shades,
and what is left?
a blue one,
sadness
or
happiness,
in false memories
ah, recolor again
like a life,
need much restart,
no exit
A Moon Catcher
I'm a moon catcher,
to keep the light in my soul
to kill all shadows
to imagine
to sleep.
I'm a moon catcher,
silently spend timeless night,
struggle in black and white.
I'm a moon catcher,
I'll never be grey.
10.3.17
Subscribe to:
Posts (Atom)
