Showing posts with label ini curhatanku. Show all posts
Showing posts with label ini curhatanku. Show all posts

7.1.17

Perhaps




Someday, I'll tell this story to my children before they sleep soundly.

(in one breath)


There is a blue sky above the million ordinary creatures with a head and two legs who dream to own tiny thing called globe and wish to be the only one winner but nothing happened then decide rashly to join the dark side with funny toys called wars and pray to die in a happiest way because of the evils mindset that teach shit about sharing is an ugly thing so just believe in one god called egoism and use the name of peace to earn heaven alone and kindly give hell freely without asking the owner first then throw fucking endlessly smiles to gather the minions and build the greatest castle in the dumbest kingdom so the world can materialize the imaginary of sitting comfortly in a gold king's chair and use a beautiful crown that made from the purest blood and tears of the innocents to boost pride in the glamorous night of lies that shine bright as the diamond dance floor where many royal parties start then dictate the time to freeze forever so the sun never rise in the morning of tomorrow's hope.

4.1.17

Aku dan Buku

Pertemuanku dengan buku bukanlah sesuatu yang luar biasa, mungkin malah tidak memiliki nilai-nilai keindahan untuk dijadikan bumbu dalam sebuah cerita yang sarat dengan inspirasi supaya layak untuk selalu dikenang oleh orang-orang di kotak terdalam ingatan mereka. Mungkin bisa dianggap sebagai sebuah kebetulan yang sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku. Aku tidak terlahir dalam keluarga yang kental akan budaya literasi, aku tidak jatuh cinta dengan buku pada pandangan pertama, aku bahkan butuh waktu yang lama hanya untuk menyadari keberadaannya. Aku pernah menganggap buku itu tidak penting karena merasa bahwa ia bukanlah bahan yang cukup keren untuk dibahas di sela-sela makan malam atau di sela-sela tayangan televisi yang menawarkan produk-produk ajaib nan utopis. Aku juga pernah menganggap buku sebagai penemuan paling membosankan yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. Aku tidak mengerti bagaimana bisa seseorang dapat menemukan kesenangan atau kedamaian jiwa hanya dengan memandangi ratusan lembar kertas yang berisi deretan kata-kata memusingkan sepanjang malam. Aku ragu untuk memberikan kepercayaanku pada buku dan segala kerumitannya, ragu pada waktu yang harus diluangkan untuk menghabisinya, ragu pada kejujurannya yang mungkin kucerna sebagai sebuah kebohongan; atau sebaliknya.

Segalanya menjadi menarik ketika aku menyadari adanya suatu kekosongan dalam diri yang entah bagaimana selalu berhasil mengusik di setiap kesempatan, menjadi kegelisahan yang tak wajar, seiring menuanya usia bersama alam semesta. Aku merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang banyak hal, tertinggal jauh dalam putaran-putaran dunia yang tak pernah istirahat, lalu terhenti di barisan paling belakang. Aku malu pada ketidakmampuanku untuk segera mengisi kekosongan tersebut seorang diri. Aku juga malu untuk sekadar bertanya pada orang-orang tentang apa saja yang telah kulewatkan. Aku malu untuk mengakui bahwa begitu banyak waktu yang telah kubuang sia-sia dengan sengaja. Aku malu karena terlambat mengetahui bahwa ternyata selama ini aku hanya jalan di tempat, berlari kencang pun percuma. Aku malu karena menjadi asing pada diri sendiri. Dan aku malu pada buku yang tetap menatapku lembut sembari menawarkan senyum penuh maaf yang tulus.


Begitulah, buku telah menyelamatkanku dengan caranya yang paling sederhana; membiarkanku menyibak helai-helai aksaranya secara perlahan, tak pernah marah jika sesekali aku perlu mengintip halaman sebelumnya, dan tak akan dendam bila aku terlanjur penasaran pada apa yang tersembunyi di akhir cerita. Buku akan selalu seperti guruku, atau temanku, bahkan orangtuaku. Ah, buku mungkin juga bisa menjadi kekasihku.

24.11.16

Cuti Kuliah

  Saya paling takut jika menjadi orang bodoh, soalnya saya benci dibohongi. Yah, meskipun menjadi orang pintar juga bukan jaminan, karena mungkin korban kebohongan terbesar justru berasal dari orang-orang yang mengaku dirinya pintar.

  Makanya, saya merasa sedih ketika sedang susah-susah berusaha mencari arti kepintaran sejati malah dituduh bercita-cita menjadi orang bodoh. Padahal saya memang sudah bodoh sih, jadi sebenarnya tidak perlu repot-repot berburuk sangka. Saya cuma penasaran, apakah dengan membaca buku-buku yang tidak disuguhkan di kampus atau menonton film-film yang bukan untuk memenuhi tugas kuliah itu bisa membuat saya sedikit lebih pintar atau tidak.

  Karena saya bodoh, saya menduga bahwa semua hal itu pasti bisa mengubah nasib saya yang malang. Mungkin saya memang keliru, buktinya tidak ada nilai-nilai A atau IPK cumlaude sebagai hadiahnya. Bahkan, saya malah harus remidial membaca ulang buku-buku atau menonton film-film yang maknanya disembunyikan dengan rapi dan indah. Saya selalu percaya, manusia adalah konten yang tidak akan pernah habis dipelajari, dan kebanyakan dari karya sastra dan seni tersebut telah berbaik hati merangkum segala pencapaian yang pernah ada dalam usahanya untuk memahami manusia, tentunya melalui penelitian dari berbagai aspek terlebih dahulu, lalu diolah dan disuguhkan ke dalam bentuk yang menurut saya amat menyenangkan.

  Toh, pada akhirnya semua ini memang soal pilihan, dan setiap manusia selalu mempunyai pilihannya sendiri. Barangkali ini cuma masalah perbedaan dalam memilih cara dan kesukaan masing-masing untuk memahami manusia.

  Yah, intinya sih, sadarilah bahwa banyak sekali hal yang sama-sama belum kita ketahui di luar sana, banyak kebohongan-kebohongan yang tanpa disadari mungkin akan menipu kita pelan-pelan entah demi kepentingan siapa.

  Tidak perlu bingung mencari contohnya, mulailah dari diri sendiri. Kalau kita masih merasa pintar hanya karena nama kita akan (sedikit) lebih panjang dengan gelar kebanggaan, sementara kita tidak pernah benar-benar peduli pada apa yang seharusnya kita pahami dengan baik, artinya kita telah ditipu habis-habisan oleh yang namanya kuliah. Selanjutnya, para pembohong di luar sana dengan segera akan memangsa kita karena terlihat sebagai sasaran yang empuk.

  Nah, tunggu apa lagi? Jangan sia-siakan waktu yang tersedia hanya untuk menertawakan saya yang memang sengaja cuti kuliah untuk membaca buku dan menonton film ini. Karena tugas kita yang sebenarnya adalah mencari para pembohong yang jahat dan egois itu, supaya jumlah korban yang tertipu semakin berkurang. Karena ternyata orang bodoh dan orang pintar itu sama-sama tidak suka dibohongi, dan juga sama-sama bisa membohongi.

7.3.16

Surat Cinta

Yogyakarta, 7 Maret 2016





Halo, sahabat paling setia dan tulus yang pernah kukenal.

Sudah lama sekali yaa! Rasanya sudah berabad-abad kita tidak bersua dalam kata. Kamu memang sepayah-payahnya sahabat, tega membuatku berprasangka buruk tentangmu. Sempat terbesit di benakku bahwa kamu sudah melupakanku, tentu tidak kan? Aku sangat yakin kita adalah sahabat sejati sejak lahir, tak bisa dipisahkan dan bersifat abadi.

Kamu ingat kan, terakhir kali kamu bercerita padaku tentang ingar-bingar dunia perkuliahan yang membuatmu sedikit kesulitan untuk beradaptasi. Bertemu orang-orang baru yang tak terduga, mengikuti segala kegiatan yang kamu sukai lalu kelimpungan membagi waktu, selalu kesiangan dan tidak pernah berhasil membaca materi kuis sampai tuntas, serta sedikit cerita cinta yang kadang terselip di sela kesibukanmu. Sahabatku, kali ini cerita seperti apa yang sudah kamu siapkan? Cerita yang barangkali hanya bisa dibagi denganku? Jangan sungkan, jika bukan denganku kepada siapa lagi kamu akan berterus terang?

Sejujurnya, aku mengirim surat duluan karena penasaran dengan keadaanmu saat ini. Kita berjarak ribuan kilometer tapi kabar yang dibawa angin bisa-bisanya sampai di telingaku. Katakan, apakah hal itu benar? Aku tidak akan menghakimi atau menyudutkanmu. Sebagai sahabat yang baik tentu saja aku harus melihat dari segala sisi terlebih dahulu, menimbang-nimbang semua yang bisa ditimbang lantas menyusun kata-kata yang pantas untuk diungkapkan. Ah, jika memang kamu yang nakal tentu saja aku akan mengatakannya, tanpa ragu. Jangan harap aku akan mendukungmu melakukan tindak kriminal, wek! Hehehe

Hmm, bagaimana jika kuberi beberapa saran? Sebagai orang yang mempunyai empati tinggi (aku barusan tes kepribadian dan hasilnya menunjukkan itu, tentu saja aku percaya pada hal-hal baik hehe), aku bisa merasakan persis yang kamu rasakan ketika menghadapi hal tersebut. Dulu kamu pernah bilang ingin menjadi dewasa kan? Ingin berhenti menjadi bocah lugu yang tidak tahu apa-apa. Nah, menurutku inilah saat yang tepat, kamu harusnya berterimakasih pada Tuhan karena telah memberi momentum yang ciamik. Memang rasanya berat, di usia yang semakin bertambah, kamu dituntut untuk matang, menjadi bijak dan merelakan kesenangan-kesenangan bocah yang begitu surgawi. Kamu tidak boleh lari dari takdirmu sendiri! Kamu harus berani! Menjadi dewasa yang dibutuhkan hanya keberanian! Keberanian untuk menghadapi apapun dengan segala resikonya! Kalau kamu takut, kamu tidak akan kemana-mana, tidak akan menjadi siapa-siapa, selamanya. Mau kamu hidup begitu? Makanya, ketakutanmu akan rasa sakit, sedih, tidak diterima, tidak beruntung, kecewa, dikecewakan, dikhianati atau gemar menyangsikan keadilan Tuhan, memang harus segera dihilangkan. Kamu harus mulai membiasakan diri untuk berpikir secara rasional (karena kamu sudah melewati masa pubertas). Yah, sejauh ini kamu percaya kata-kataku kan? Aku sudah susah-susah memikirkannya lho.

Dan lagi, kamu tidak perlu ambil pusing mengenai peruntunganmu dalam dunia percintaan. Aku serius lho ini! Dengar ya, menurutku yang paling kamu butuhkan saat ini adalah orang-orang baik yang mempunyai satu tujuan, untuk terus berkembang. Lebih baik kamu habiskan buku-buku kakakmu atau film-film yang belum sempat kamu tonton dari dulu, daripada rajin berkhayal setiap hari tentang; mungkin saja hari ini adalah hari dimana aku akan bertemu dengan pangeran pujaan  hati (sudah kubilang, jangan percaya dongeng apalagi dongeng tentang pangeran berkuda putih).

Sudah ah, kira-kira begitu. Sudah aku sampaikan semuanya, jangan lupa dibalas! Dan jangan lupa bersyukur kamu mempunyai sahabat sepertiku :p
                                                                                                                                  


                                                                                                                                                               Dari sahabatmu,


                                                                                                                                                                          Aku          

21.12.13

Am I Always Look Like This?

  









   All photos above make me realize that 'the most mine' facial expressions are sleepy and lazy. Also make me understand that I'm not a photogenic person. Hmm.. wondering why..

9.11.13

Aksi Nyata Puputan Margarana



     Terlepas dari penting atau tidaknya postingan, video ini adalah dokumentasi yang sempat terlupakan. Terlupakan karena batal tayang saat presentasi di depan teman-teman satu angkatan. Yah, mungkin inilah cara terbaik agar yang 'terlupakan' menjadi 'tak terlupakan'. Hehehe.

5.11.13

O


O, diambil dari nama depanmu
inisial sederhana yang begitu rumit

O, sebuah vokal yang membulatkan rasa
menyatukan berbagai emosi dalam cinta

O, huruf yang kusembunyikan rapat-rapat
diantara sekat-sekat, mimpi dan harap

Tahukah O?
aku terbiasa merahasiakan sesuatu
yang tak biasa kutampakkan

Dan, tahukah O?
aku membicarakanmu dalam tiap rindu
merapalmu dalam tiap doa senduku

O, sadarkah kamu?
kamu adalah jawaban dari rangkaian asa
yang merangkaimu dalam pertanyaan
pertanyaan yang selalu saja berakhir
dalam sebuah
huruf
O

17.1.13

Aku, Sehelai Kain, Kalian dan Tuhan


    Mungkin aku memang aneh. Di matamu, di matanya, di mata kalian semua. Aku tak yakin aku tak salah. Aku tahu aku tak selalu benar. Aku tahu keputusanku ekstrim. Keputusan yang membentur garis batas normal orang awam. Keputusan yang mengundang kontroversi. Pro dan kontra. Kalian berebut menilaiku, mengkategorikanku, menghakimiku. Kalian menganggapku sangat salah, tak ada benarnya sedikit pun. Dengan angkuh menentukan semuanya, seolah menjadi Tuhan. Dengan segala kesombongan, tanpa sadar memperjelas kesalahan sendiri di atas kesalahanku. Yah, memang, aku benar-benar aneh. Sungguh, aku yang salah. Sungguh, kalian yang benar. Atau kita sama-sama benar? Sama-sama salah? Entahlah, aku lelah. Lelah terhadap sesuatu yang bukan porsiku, yang jawabnya tak akan bisa diterka manusia. Lelah terhadap semua ini. Ya, aku lelah. Lelah dan salah.

8.8.11

Tentang Kota Truk

Ya, mulai tahun ajaran baru ini aku akan menetap di Semarang untuk sementara. Sebenarnya aku tidak terlalu setuju dengan kepindahan ini, aku sudah terlanjur merasa nyaman di sini. Rasanya baru saja aku berhasil beradaptasi dan mendapatkan sahabat baru. Baru saja aku bisa melupakan insiden 'kepental' dari sekolah favorit. Baru saja bangkit untuk berdiri lagi. Baru saja bermimpi untuk membuat sekolahku terkenal dengan beragam event keren. Baru saja hal yang kumulai dengan susah payah akan diakhiri tiba-tiba. Tapi, ini bukan sekedar masalah setuju tidak setuju, tanggung jawabku sebagai anaklah yang membuatku harus menerimanya.

Masih dengan setengah hati, aku akhirnya menurut. Kakakku mencoba membuka pikiranku, "Harusnya kamu seneng bisa ngrasain tinggal di luar Jogja. Aku aja nyesel dari kecil sampe sekarang cuma ubek di Jogja thok.. Ini tu pengalaman buat sangumu pas kuliah besok. Udahlah, gausah takut gak dapet temen.. Orang yang satu tujuan sama kita tu pasti ada, tinggal masalah ketemu apa enggak.."

Yup, respon pertamaku mendengar kalimat itu tentu saja tidak setuju. Memangnya ada apa waktu kita kuliah besok? Memangnya harus dipikirin sekarang? Memangnya tidak bisa jika tanpa persiapan? Memangnya terjamin di sana kelak aku menemukan orang yang setujuan? Memangnya aku rela meninggalkan semua ini? Yang sudah susah payah kubangun. Lalu apa aku pergi begitu saja, meninggalkan tanggung jawabku sebagai wakil OSIS? Bagaimana dengan DIKAN? Bagaimana dengan semua rencanaku? Mengapa tiba-tiba berantakan begini?

Perlu waktu cukup lama untuk menjawab semua pertanyaan itu. Belum lagi dengan anakan pertanyaan di atas. Belum tentu juga aku mendapatkan semua jawabannya. Aku galau tingkat dewa. Aku harus berbuat apa disaat seperti ini? Aku harus bertanya pada siapa? Meminta saran kepada siapa? Siapa yang harus kudengar? Yang harus kupercaya?

Akhirnya aku lari pada sahabatku, teman-teman dekatku. Mereka kompak melarangku hijrah ke sana. Dari teman sekelas, sahabat, teman SMP dan tentu DIKAN. Walaupun alasan-alasan melarangku cukup manja tapi aku justru senang. Tiba-tiba aku merasakan rasanya dibutuhkan dan disayangi. Hati kecilku berkata bahwa aku tidak akan sanggup meninggalkan mereka semua. Membuatku berkata, "Tapi masih kayaknya kok, enggak wes nek jadi pindah.."
Dan dengan sepotong kata itu mereka percaya bahwa aku tidak akan pergi.