Showing posts with label ini ceritaku. Show all posts
Showing posts with label ini ceritaku. Show all posts

9.1.17

Taken From My Tiniest Diary


Someday, in case you start to doubt anything about me or this weird relationship, or choose to forget this kind of magic really happened between us, or just to kill the time in your precious moment of solitude, please read these words with the utmost sincerity though mine isn’t as good as yours. This is all about my ordinary stories in one randomly day since I started doing this lovely connection with you. Actually, I don’t really like to share my secrets with you virtually, but what else I can do now?

(Page 312-402)

It started in the morning when I woke up early than any other days before I met you. I never woke up at 3:00 AM except there were some important things to do like finishing homeworks, or preparing home made lunch box when I thought the money couldn’t save my life till the last day of the month. But back then, I didn’t know why suddenly my tired eyes opened and I just did nothing. I stared the pink wall out without any purpose, still tried to remember what was the last part of my dream. Then I smiled because out of nowhere your handsome face slowly showed up, really made me blushed quickly. I couldn’t stop myself to keep imagining some beautiful stories with you in the future. And that was how I often forgot about the killer morning lecture, so I went late to class regularly.

In the afternoon, I always felt anxious when I was walking in your comfort area because I realized there were so many opportunities to meet you coincidentally. I did want to see you and maybe made a move to say hello first but I didn’t want to look ugly in front of you because I knew that I wasn’t pretty enough to make a good impression. So, I decided to never go there much less to sit without bought some foods. Your words about me before were right, the opinions that I was too afraid to love and rambled too much about anything. But I guessed you didn’t know the facts about; I never forgot to think about you in every slightest second of a hectic day, nor I didn’t remember exactly how much I touched my phone just to stalk if there was any news from you. I was crazy about all the small details in those poems which I could correlate with mine. And to hide the great excitements from my friends, I always acted gloomy in every single way. They started to worry then kindly told me to be happy always. Surely I’d do, even they didn’t ask.

And in the night, I thought more deeply about you. I tried to figure out all the things that made you sad nor mad. I tried to feel all the pains that came from your darkest past so I could find the best healer then brought it to you. I wanted you to know that I didn’t mind to give all my happiness for you. I also wanted to be a girl who could hurt you so badly then made you cry endlessly in a long road of desperations. I’d feel very happy because I knew that you really loved me madly. But I wondered again if I was right or wrong. I finally decided that it was better to be happy than to be sad. I desired to make you happy no matter how hard it would be. I wanted us to be happy together. Then lately, I could feel that some tiny things inside me constantly moved around, they had been biggering and started to burst out, strongly pounded against all my dignities. I was afraid again of making some mistakes unconsciously and failed to impress you in the classy ways. So, I didn’t want to look cheesy to confess easily that probably I was so-very-damn-really-great-extra-super-duper-mega-hyper-ultra-to the max-to the moon and back-to the pluto and back-to the heaven but not back-truly in love with you.

Oh, almost forgot to tell you that I always did pray to God in the most silent way before my own eyes closed, so you could sleep easily in your lonely nights, so you were not sad anymore, so you could be stronger than ever, so you could find your true self, so you could make this world full of peace, so you could embrace all the things you loved, so you could chase your hardest dream, so you could always be happy with or without me.


See you, my favorite stranger.

7.1.17

Perhaps




Someday, I'll tell this story to my children before they sleep soundly.

(in one breath)


There is a blue sky above the million ordinary creatures with a head and two legs who dream to own tiny thing called globe and wish to be the only one winner but nothing happened then decide rashly to join the dark side with funny toys called wars and pray to die in a happiest way because of the evils mindset that teach shit about sharing is an ugly thing so just believe in one god called egoism and use the name of peace to earn heaven alone and kindly give hell freely without asking the owner first then throw fucking endlessly smiles to gather the minions and build the greatest castle in the dumbest kingdom so the world can materialize the imaginary of sitting comfortly in a gold king's chair and use a beautiful crown that made from the purest blood and tears of the innocents to boost pride in the glamorous night of lies that shine bright as the diamond dance floor where many royal parties start then dictate the time to freeze forever so the sun never rise in the morning of tomorrow's hope.

4.1.17

Aku dan Buku

Pertemuanku dengan buku bukanlah sesuatu yang luar biasa, mungkin malah tidak memiliki nilai-nilai keindahan untuk dijadikan bumbu dalam sebuah cerita yang sarat dengan inspirasi supaya layak untuk selalu dikenang oleh orang-orang di kotak terdalam ingatan mereka. Mungkin bisa dianggap sebagai sebuah kebetulan yang sama sekali tidak pernah terlintas di pikiranku. Aku tidak terlahir dalam keluarga yang kental akan budaya literasi, aku tidak jatuh cinta dengan buku pada pandangan pertama, aku bahkan butuh waktu yang lama hanya untuk menyadari keberadaannya. Aku pernah menganggap buku itu tidak penting karena merasa bahwa ia bukanlah bahan yang cukup keren untuk dibahas di sela-sela makan malam atau di sela-sela tayangan televisi yang menawarkan produk-produk ajaib nan utopis. Aku juga pernah menganggap buku sebagai penemuan paling membosankan yang pernah ada dalam sejarah peradaban manusia. Aku tidak mengerti bagaimana bisa seseorang dapat menemukan kesenangan atau kedamaian jiwa hanya dengan memandangi ratusan lembar kertas yang berisi deretan kata-kata memusingkan sepanjang malam. Aku ragu untuk memberikan kepercayaanku pada buku dan segala kerumitannya, ragu pada waktu yang harus diluangkan untuk menghabisinya, ragu pada kejujurannya yang mungkin kucerna sebagai sebuah kebohongan; atau sebaliknya.

Segalanya menjadi menarik ketika aku menyadari adanya suatu kekosongan dalam diri yang entah bagaimana selalu berhasil mengusik di setiap kesempatan, menjadi kegelisahan yang tak wajar, seiring menuanya usia bersama alam semesta. Aku merasa bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang banyak hal, tertinggal jauh dalam putaran-putaran dunia yang tak pernah istirahat, lalu terhenti di barisan paling belakang. Aku malu pada ketidakmampuanku untuk segera mengisi kekosongan tersebut seorang diri. Aku juga malu untuk sekadar bertanya pada orang-orang tentang apa saja yang telah kulewatkan. Aku malu untuk mengakui bahwa begitu banyak waktu yang telah kubuang sia-sia dengan sengaja. Aku malu karena terlambat mengetahui bahwa ternyata selama ini aku hanya jalan di tempat, berlari kencang pun percuma. Aku malu karena menjadi asing pada diri sendiri. Dan aku malu pada buku yang tetap menatapku lembut sembari menawarkan senyum penuh maaf yang tulus.


Begitulah, buku telah menyelamatkanku dengan caranya yang paling sederhana; membiarkanku menyibak helai-helai aksaranya secara perlahan, tak pernah marah jika sesekali aku perlu mengintip halaman sebelumnya, dan tak akan dendam bila aku terlanjur penasaran pada apa yang tersembunyi di akhir cerita. Buku akan selalu seperti guruku, atau temanku, bahkan orangtuaku. Ah, buku mungkin juga bisa menjadi kekasihku.

1.1.17

(catatan-catatan pendek dari masa lalu yang disusun sedemikian rupa agar menjadi sebuah cerita yang lebih panjang untuk dibaca kembali di masa depan)



Aku ragu pada setiap laki-laki yang berani mengatakan rahasianya padaku;
bahwa dia memiliki rasa kasih sayang yang berlimpah,
lalu berencana untuk membaginya sampai mati hanya denganku.

Dengan segera, secara tidak sadar aku akan menutup segala kemungkinan yang ada untuk mencegah terciptanya relasi; bahkan hanya untuk sebuah pertemanan yang tulus.

Aku tidak peduli pada perkataan orang-orang yang menganggapku sombong atau sangat pemilih.

Aku hanya peduli pada hal-hal yang kuanggap baik,
misalnya pada sebuah keputusan untuk tidak melukai perasaan orang lain dengan sengaja dalam waktu yang lama.

Lagipula aku tidak cantik, tidak pintar
dan tidak memiliki banyak uang dari orangtua yang kaya raya.

Aku heran pada apa yang sebenarnya kulakukan selama ini,
penasaran pada apa yang ingin kucapai dalam hidup,
mengenai cinta dan lainnya.

Mungkin aku tersesat terlalu jauh dalam pikiranku sendiri,
tentang konsep-konsep cinta anak sekolahan atau putri kerajaan di buku cerita.

Aku ingat saat duduk di bangku taman kanak-kanak,
pertama kalinya merasakan pengalaman "senyum-senyum sendiri" sepanjang hari.

Aku ingat saat duduk di bangku sekolah dasar,
pertama kalinya merasakan tekanan batin yang teramat besar karena tidak punya teman.

Aku ingat saat duduk di bangku sekolah menengah pertama,
pertama kalinya menyadari bahwa dunia itu luas.

Aku ingat saat duduk di bangku sekolah menengah atas,
pertama kalinya memahami bahwa angan-angan tanpa usaha itu omong kosong.

Aku juga ingat saat pertama kalinya kuliah,
diam-diam berjanji pada diri sendiri untuk tidak tersenyum pada siapapun agar terlihat seperti orang yang cuek.

Aku meyakini kebenaran tentang konsep:
cinta itu menyenangkan,
percaya pada orang asing itu sulit,
orang asing ada dimana-mana,
keinginan itu harus ditebus dengan kerja keras,
melindungi diri sendiri itu penting.

Lalu tiba-tiba aku membayangkan bahwa kebahagiaan akan segera datang dalam komposisinya yang pas;
tidak lebih dan tidak kurang.

Karena aku selalu khawatir pada perputaran dan keseimbangan,
jika saat ini terlalu senang maka di waktu yang akan datang pasti menjadi terlalu sedih.

Aku takut dan tidak bisa berbuat apa-apa,
padahal sudah tahu ingin bahagia tapi tidak berani berusaha.

Aku takut melakukan kesalahan.

Semua kesalahan yang berkeliaran di pikiranku, misalnya kesalahan yang sama atau kesalahan yang belum pernah kulakukan dan seharusnya bisa kuhindari dari awal tetapi tetap saja terjadi.

Aku takut pada banyak hal yang menyenangkan
maupun menyedihkan.

Aku takut menyukai orang yang tidak menyukaiku,
aku takut orang yang kusukai menyukai orang lain,
aku takut disukai orang lain yang tidak kusukai.

Jika aku menyukai orang yang menyukaiku pun rasa takut itu tetap ada.

Aku takut dibohongi oleh orang yang menyukaiku,
oleh konsep yang kuyakini kebenarannya,
oleh diriku sendiri yang percaya bisa membuat orang yang kusukai tersenyum.

Mungkin orang yang kusukai itu kamu,
memang rasanya aneh karena kamu adalah orang asing.

Aku takut mengakui bahwa ternyata aku benar-benar menyukaimu.

Aku takut mengakui bahwa ternyata aku sama sekali tidak pantas; bahkan hanya untuk menyukaimu.

Aku takut ketika nanti kamu berbicara tentang suatu hal lalu aku tidak mengerti;
mungkin karena belum pernah mendengar atau pernah mendengar tapi tidak mencari tahu lebih dalam,
aku hanya diam dan tidak bisa mengikuti betapa asyiknya rangkaian alur perbincangan yang ingin kamu lakukan bersamaku.

Aku hanya diam, mungkin tersenyum dan pura-pura mengerti;
atau pura-pura lupa padahal tidak mengerti sama sekali.

Aku takut peristiwa itu akan sering terjadi dan kamu mulai curiga
bahwa sebenarnya perasaanmu padaku bukanlah cinta.

Aku takut menghadapi kenyataan bahwa lambat laun penyesalanmu akan semakin nyata,
lalu dengan raut tidak enak kamu akan berkata lembut padaku sebelum pergi,
"Maaf, sepertinya semua ini sia-sia."


Lalu aku hanya diam, pura-pura tersenyum lalu tertawa.

Awalnya pelan lalu semakin keras, akhirnya terbahak-bahak agar tidak disangka menangis karena sedih.

6.12.16

Sebuah Permainan



Kira-kira sudah ratusan motor yang melewati lampu merah di bawah sana, menurut perhitunganku. Dia juga menatap kaca yang sama, terkadang mencoba melakukan hal yang serupa denganku karena penasaran seperti apa rasanya. Sampai dia menyadari bahwa ternyata rasa bosan datang lebih cepat dari yang dia perkirakan sebelumnya. Akhirnya, dia bersuara. Permainan pun dimulai.

---

“Kenapa diam saja, sih?”

Tidak, kamu salah lagi. Kali ini kamu benar-benar salah sangka. Harusnya kamu tidak menanyakannya, itu bukan kata-kata yang perlu kamu ucapkan, sungguh.

“Rahasia, ya?”

Mungkin bisa dibilang begitu, tapi bukan itu maksudku. Sebenarnya, kamu sudah paham kan? Tidak ada yang perlu aku sembunyikan darimu, begitu pula sebaliknya. Berhentilah berpura-pura, menurutku itu tidak lucu.

“Hei, mau sampai kapan begini terus?”

Jangan khawatir, aku tidak akan pernah menyesal karena telah percaya padamu. Aku akan selalu percaya bahkan melebihi rasa percayamu pada diri sendiri. Kamu percaya padaku juga kan?

“Jadi kamu membenciku? Benar kan?”

Usaha yang bagus, tapi aku tidak akan bisa membencimu meski kamu sendiri yang terus-menerus memaksaku. Bagaimanapun juga, aku tidak mau kalah darimu. Kalau kamu sengaja menyerah, mungkin saja ceritanya akan sedikit berbeda.

“Baiklah, sekarang aku menyerah. Senang?”

Sama sekali tidak, bodoh.

“Sudah ah, sampai jumpa lagi. Kapan-kapan, mungkin…”

Benar, pergi saja sana yang jauh. Tidak akan ada kapan-kapan kecuali kamu benar-benar memahaminya. Ah, padahal aku sangat yakin bahwa sebenarnya kamu paham tapi sengaja melakukannya padaku. Kamu sendiri yang memulai permainan ini, tentu tahu peraturannya. Tanpa perasaan itu, semua akan berakhir dengan sia-sia. Tapi tetap saja aku menyukaimu, mungkin selamanya.

“Hmm, kamu yakin tidak mau mengucapkan kata-kata perpisahan?”

Aduh, kamu ternyata memang gila. Siapa sih yang bilang ingin berpisah? Kalau kamu mau pergi, pergi saja. Toh, aku tidak pernah menganggapnya sebagai perpisahan karena semua petualanganmu itu sementara.

“Katakanlah sesuatu atau kamu akan menyesal…”

Sudah kubilang, kamu tidak akan pernah bisa memaksaku. Kamu hanya belum menyadarinya, mungkin sekarang memang lebih baik kamu terus berbicara seperti itu, menanyakan hal-hal yang tidak masuk akal berulang-ulang dan aku akan tetap diam.

“Apakah aku sama sekali tidak ada artinya bagimu?”

Benar, pertanyaan semacam itulah yang aku harapkan.

“Begini, aku tidak akan pernah tahu apa yang kamu pikirkan jika kamu tidak mengatakannya…”

Bohong, kita sudah bertahan selama ini dan semua baik-baik saja. Entah bagaimana, kita selalu berhasil menemukan cara untuk saling memahami perasaan masing-masing meski tanpa kata-kata.

“Tahu tidak, sekarang aku memikirkan apa?”

Bagaimana caranya supaya kamu bisa menang dariku?

“Aku membayangkan andai kita tidak pernah bertemu, andai kita tidak pernah terperangkap dalam situasi seperti ini, andai kita akan mati dengan tetap menjadi orang asing satu sama lain…”

Kamu bebas membayangkan apapun yang kamu mau, tapi nyatanya kamu akan tetap bertemu denganku. Kamu akan tetap bertemu denganku, dan hanya denganku. Jika tidak terjadi sekarang, maka di kehidupan berikutnya pasti kamu akan bertemu denganku. Selamat, kamu telah membuang waktumu dengan pengandaian yang sia-sia.

“Kamu pasti pernah memikirkannya juga kan?”

Aku sangat menyayangimu, percayalah.

“Mungkin saja aku lebih bahagia bersama orang lain. Seharusnya aku melewatkanmu dan menunggu lebih lama, tidak perlu tergesa-gesa untuk memutuskan sebuah pilihan…”

Maka aku hanya perlu menunggumu lebih lama daripada biasanya. Bukan masalah besar jika kamu menginginkan lebih, manusia memang tidak pernah merasa puas.

“Kenapa harus kamu sih? Dan kenapa harus aku?”

Aku tidak begitu yakin, tapi menurutku tidak ada jawaban yang pantas. Anggap saja semua ini terjadi karena kebetulan. Jangan mempersulit diri sendiri dengan pertanyaan berat, kamu belum tentu bisa mendapatkan jawaban yang sepenuhnya melegakan.

“Rasanya, aku jadi ingin mati saja deh… Aku tidak mau bertemu siapa-siapa dan selamanya akan sendirian…”

Jangan, aku tidak tega melihatmu menjadi arwah penasaran.

“…”

Kenapa tiba-tiba diam? Apakah sekarang giliranku?

“Aku sebenarnya sangat menyukai keheningan ini, tenang dan nyaman terbungkus dalam rasa aman, merangkul kita dalam ketidaktahuan yang menyenangkan…”

Akhirnya kamu memahaminya juga, aku senang sekali.

“Ah, maksudku kita selalu menduganya sebagai ketidaktahuan tapi sebenarnya kita sengaja melakukan itu karena sudah tidak ada lagi hal yang perlu kita pastikan…”

Sejujurnya, sekarang aku mulai merasa kalah darimu. Hei, kapan giliranku?

“Aku ingin mati karena terlalu senang, dan ketika hidup kembali aku akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku ingin mati lagi karena terlalu senang dan kamu tahu apa sebabnya…”


Baiklah, sepertinya sekarang memang sudah giliranku. Bersiaplah, aku akan mulai bertanya mengenai teka-teki yang serupa dengan milikmu. Permainan harus terus berlanjut, karena begitulah cinta selalu mempermainkan kita sampai nanti, kita akan selalu khawatir dan menduga hal-hal buruk menyakitkan yang mungkin bisa saling kita lakukan diam-diam dan memastikan kesetiaan dan menanyakan apakah cinta hari ini masih sama dengan yang kemarin dan menangis karena takut bila esok tidak ada cinta yang tersisa dan menjalani hari dengan kesadaran penuh meski tahu bahwa satu-satunya aturan dalam permainan ini adalah tidak ada yang boleh menang. Cintalah yang harus selalu menang, dan kita berdua sama-sama bersedia dipermainkan olehnya dengan sukarela.

26.11.16

You Are So Cruel


    We have same taste, we both love to talk about love. And what kind of love that we like? Yes, a melancholy one, full of sadness and desperation but still can make us happy. No, maybe I’m wrong. Do you think that thing absolutely make us happy precisely? That ‘only thing’. The only thing that make us happy to talk about love is sadness and desperation itself. Or am I wrong again?

 This is getting harder, more complicated than before. I resemble you, a person who lonely but happy to keep imagining what world can be in fantasy, where no one can ever lay their hands on the story. We both know that’s all we have and that’s all we ever wanted in this life. Freedom to live in our own mind which may never be real but can give us the most real feelings. And now, look what you have done! You shot them all in pieces! You ruined my universe! The only one I have!

   See, if you don’t love me just say it bluntly! In front of my face, in reality. Don’t ever make me uncertain again of anything about you nor about our strange relationship in my heaven of illusion. Did you know, I’ve always been wondering about how two people in this real world, who have same likes and dislikes, both are truly stranger too, but magically understand without a doubt though never seeing each other? I believe that can happen. Certainly!

   I had believed that man was you. I had believed that you have read my words. I had believed that she was me, a special girl that you’ve been writing about all the time. Did you ever wonder how afraid I am to deal with my own faith? To against my own faith? Did you ever care? Nope!

   All I want is make this story to have a happy ending. Unfortunately, I don’t have a heroic character to make it happen, even in my own dreams. Once again, I’m just a dreamer. That’s mean I need so much sleep now. Ah, maybe you too?

22.11.16

The End

  So, this is really comes true. I’ve never believed before you said that words, finally. Now, what story will we make? Still a melancholy one like usual or trying something new like a bold and wild adventures in the jungle? Of course, whatever path we choose it doesn’t matter anymore. Everything will be good as last as happy ending because we are together, never be apart.

  It starts awkwardly, our first conversation in reality. We can’t stop looking each other with eyes of astonishment. We throwing our best smiles endlessly with or without clear reasons. We sharing our own dreams, arranging those with beautiful fantasies then promising to embrace all with great collaboration of effort. We absolutely having a heavenly day ever, forever.

20.11.16

Biskuit Selai Kacang

Uang sakunya hampir habis. Bulan ini selalu sama dengan bulan-bulan yang lalu. Dia hanya mempunyai satu lembar uang kertas warna hijau. Dua puluh ribu rupiah untuk bertahan sampai hari Sabtu. Dia memandangi lagi laki-laki yang terlukis di lembaran itu, bertanya-tanya adakah cara untuk mengenyangkan perutnya selama sepuluh hari ke depan. Dia memejamkan matanya sejenak lalu membuang nafas pendek.  Kini sorot matanya tampak lebih bersinar dan penuh keyakinan. Dia mengambil kunci motornya dan segera melesat menembus malam.

Dia mendengus kesal, tampak kecewa dengan apa yang dilihat. Semula dia berpikir masih ada sisa uang yang bisa diambil dari mesin penarik uang di sudut minimarket. Sekarang semuanya jadi lebih rumit, jari-jarinya sedikit ragu untuk sekadar meraba kemasan warna-warni yang tersusun di rak-rak putih. Dia memang dikenal sebagai pemuda yang mudah merasa bersalah tanpa alasan yang pantas. Sejak memasuki pintu kaca dan mendengar selamat datang dari kasir, sebenarnya dia sudah bersiap-siap untuk kemungkinan terburuk. Entah mengapa yang dikhawatirkan justru menjadi kenyataan, dia harus membeli sesuatu dari minimarket tersebut. Dia merasa tidak enak pada banyak hal; pada kasir yang mengawasinya, pada orang-orang yang sempat mengantri untuk menarik uang, pada waktu yang terbuang untuk sampai di tempat sekarang ia berpijak, dan tentu saja pada gambar lucu di bungkus makanan yang sudah menatapnya bahkan sebelum ia mendorong gagang besi yang mampu membunyikan bel bersuara pendek dengan dua nada.

Dengan cermat ia meneliti seluruh kata-kata, angka-angka dan tanggal berakhirnya penawaran. Setelah lima kali mengitari rak yang sama, dia berhenti. Di bagian paling bawah akhirnya senyum itu mengembang. Tanpa ragu dia mengambilnya, lalu berjalan ke kasir yang tampak bahagia karena segala kecemasan tentang hal-hal buruk yang mungkin dilakukan oleh seorang pemuda yang suka mondar-mandir dan tampak miskin itu sirna.


Dia sampai di rumah dengan selamat. Pelan-pelan dia membuka plastik warna merah itu dengan penuh kegembiraan. Tiba-tiba dia menyadari bahwa mungkin saja hidupnya akan segera berakhir. Dia ingat ucapan Pak Ustadz tentang kaitan rezeki dengan orang mati saat dulu ia masih ingusan. Katanya, semua rezeki duniawi seseorang bakal habis dan itu terjadi ketika seseorang tadi sudah tidak berada di dunia. Dia merasa bersalah karena telah bertindak ceroboh dan kelewatan, mengambil terlalu banyak rezeki sekaligus. Dia tak pernah menyangka bahwa isi dari plastik merah itu lebih dari sekadar biskuit selai kacang. Baginya itu adalah kejutan terbaik yang pernah direncanakan meski dia tidak ulang tahun. Dia sekarang merasa bersalah karena berpikir bisa makan enak seperti bangsawan. Bagaimana tidak, biskuit selai kacang dengan ukuran mini, dengan ketebalan selai yang pas, dengan sedikit rasa garam di pinggirnya itu tentu benar-benar berhasil menyelamatkan hidupnya. Tidak ada lagi uang kertas, namun ada lima puluh keping biskuit dan sepuluh hari tersisa. Artinya, dia akan kenyang dengan memakan lima keping biskuit selai kacang setiap hari. Barangkali dia kelaparan, tapi dia melakukannya dengan cara terhormat. Ide untuk menjadi bangsawan yang hanya mau melahap makanan seukuran jari tentu saja merupakan penemuan terhebat sepanjang sejarah. Dia tertawa, senang.

18.11.16

Sudut Terang Di Ruang Gelap


Diam-diam dia menyukai laki-laki itu, idola dari semua gadis di sekolahnya. Dia pernah berpikir untuk mengutarakannya, berkali-kali. Sayangnya, niatan itu terpaksa dia urungkan ketika menyadari sesuatu saat bercermin. Selain takut ditolak, dia juga malu karena tidak lebih pintar dari semua gadis yang mengelilingi pujaan hatinya. Karena itulah dia lalu memutuskan untuk rajin tersenyum kepada siapapun, dimanapun. Dia pikir itu satu-satunya cara untuk menjadi orang baik, setidaknya memang benar bahwa itu adalah salah satu cara untuk terlihat seperti orang baik. Sejak saat itu dia terus melakukannya. Selalu tersenyum, tanpa lelah. Menangis pun tersenyum. Sampai-sampai semua orang dibuatnya bingung dan penasaran, apa yang tersembunyi di otaknya. Katanya, tidak ada lagi yang bisa dilakukan di dunia ini kecuali tersenyum sampai mati. Karena sejak lahir dia terlanjur tidak cantik dan tidak kaya. Dia juga sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjadi pintar, tapi gagal juga. Akhirnya dia memilih jalan yang tersisa, menjadi orang baik.

Padahal, dunia ini tidak sehitam-putih yang dia bayangkan. Tidak ada orang yang benar-benar baik atau benar-benar jahat. Menurutku sih, dia sudah ditipu habis-habisan oleh gagasannya sendiri tentang takdir yang tidak bisa diubah. Dia setengah-setengah, seperti orang yang tidak percaya Tuhan tapi takut pada setan. Maksudku, kenapa sih dia harus menyerah untuk menjadi pintar? Di antara semua takdir, hal itulah yang paling bisa diubah, bahkan bisa mengubah takdir lainnya. Dia terlalu cepat mengambil kesimpulan dan tidak mau mendengarkan nasehat orang. Makanya aku jadi kesal, lalu aku bilang padanya tentang semua hal yang kupikirkan. Dia lalu tersenyum. Bayangkan, sudah susah-susah kujelaskan sedemikian rupa agar dia mengerti, agar dia bisa menjadi orang baik sungguhan, bukan hanya orang yang terus-terusan tersenyum, agar dia sadar bahwa dia tidak boleh menjadi orang baik dengan alasan seperti itu, agar dia tidak terkejut ketika mengetahui fakta bahwa sebenarnya tidak ada yang namanya orang baik, agar dia percaya bahwa selama ini yang dipikirkannya itu keliru, tapi dia cuma tersenyum! Satu kali senyuman tipis!

Aku ingin sekali memukul wajahnya yang seolah paham tapi tetap tidak mau menurut itu dengan buku catatan di tanganku sebisa mungkin melalui celah-celah sempit jeruji besi yang sedikit berkarat. Hampir saja, ketika dia tiba-tiba berkata,

“Kalau begitu, artinya selalu ada yang lebih hitam atau lebih putih, kan? Makanya, saya suka di sini karena ruangannya putih semua. Mbak boleh pintar tapi kalau jahat, sama saja dong? Gila, kayak saya hehe”


Aku pura-pura tidak mendengar, mencoba cuek pada bagaimana caranya menggerakkan sendi-sendi terkutuk di rautnya ketika mengatakan hal tersebut dengan manis dan percaya diri sebelum akhirnya tersenyum kembali. Sialan, sekarang aku jadi penasaran sebenarnya siapa yang gila.

9.11.16

To A Stranger Who I Wanna Know







This is really weird, I don’t even know you but I’m sure that I love you.

Maybe you don’t know me as well as I don’t know you and maybe you don’t ever love me as I love you forever.

I never talk to you directly, but I’ve got some feelings that we actually having a nice conversation undirectly.

I don’t know why is it should be you,
and I just think that you know the answer.






p.s :



Don’t make me look like a fool or a weirdo or a crazy girl or someone who desperately wants to find happiness fantastically as beautiful as it can happen in a fairytale. Please, do me a favor.
I always know that you know what I wanna know.

7.3.16

Surat Cinta

Yogyakarta, 7 Maret 2016





Halo, sahabat paling setia dan tulus yang pernah kukenal.

Sudah lama sekali yaa! Rasanya sudah berabad-abad kita tidak bersua dalam kata. Kamu memang sepayah-payahnya sahabat, tega membuatku berprasangka buruk tentangmu. Sempat terbesit di benakku bahwa kamu sudah melupakanku, tentu tidak kan? Aku sangat yakin kita adalah sahabat sejati sejak lahir, tak bisa dipisahkan dan bersifat abadi.

Kamu ingat kan, terakhir kali kamu bercerita padaku tentang ingar-bingar dunia perkuliahan yang membuatmu sedikit kesulitan untuk beradaptasi. Bertemu orang-orang baru yang tak terduga, mengikuti segala kegiatan yang kamu sukai lalu kelimpungan membagi waktu, selalu kesiangan dan tidak pernah berhasil membaca materi kuis sampai tuntas, serta sedikit cerita cinta yang kadang terselip di sela kesibukanmu. Sahabatku, kali ini cerita seperti apa yang sudah kamu siapkan? Cerita yang barangkali hanya bisa dibagi denganku? Jangan sungkan, jika bukan denganku kepada siapa lagi kamu akan berterus terang?

Sejujurnya, aku mengirim surat duluan karena penasaran dengan keadaanmu saat ini. Kita berjarak ribuan kilometer tapi kabar yang dibawa angin bisa-bisanya sampai di telingaku. Katakan, apakah hal itu benar? Aku tidak akan menghakimi atau menyudutkanmu. Sebagai sahabat yang baik tentu saja aku harus melihat dari segala sisi terlebih dahulu, menimbang-nimbang semua yang bisa ditimbang lantas menyusun kata-kata yang pantas untuk diungkapkan. Ah, jika memang kamu yang nakal tentu saja aku akan mengatakannya, tanpa ragu. Jangan harap aku akan mendukungmu melakukan tindak kriminal, wek! Hehehe

Hmm, bagaimana jika kuberi beberapa saran? Sebagai orang yang mempunyai empati tinggi (aku barusan tes kepribadian dan hasilnya menunjukkan itu, tentu saja aku percaya pada hal-hal baik hehe), aku bisa merasakan persis yang kamu rasakan ketika menghadapi hal tersebut. Dulu kamu pernah bilang ingin menjadi dewasa kan? Ingin berhenti menjadi bocah lugu yang tidak tahu apa-apa. Nah, menurutku inilah saat yang tepat, kamu harusnya berterimakasih pada Tuhan karena telah memberi momentum yang ciamik. Memang rasanya berat, di usia yang semakin bertambah, kamu dituntut untuk matang, menjadi bijak dan merelakan kesenangan-kesenangan bocah yang begitu surgawi. Kamu tidak boleh lari dari takdirmu sendiri! Kamu harus berani! Menjadi dewasa yang dibutuhkan hanya keberanian! Keberanian untuk menghadapi apapun dengan segala resikonya! Kalau kamu takut, kamu tidak akan kemana-mana, tidak akan menjadi siapa-siapa, selamanya. Mau kamu hidup begitu? Makanya, ketakutanmu akan rasa sakit, sedih, tidak diterima, tidak beruntung, kecewa, dikecewakan, dikhianati atau gemar menyangsikan keadilan Tuhan, memang harus segera dihilangkan. Kamu harus mulai membiasakan diri untuk berpikir secara rasional (karena kamu sudah melewati masa pubertas). Yah, sejauh ini kamu percaya kata-kataku kan? Aku sudah susah-susah memikirkannya lho.

Dan lagi, kamu tidak perlu ambil pusing mengenai peruntunganmu dalam dunia percintaan. Aku serius lho ini! Dengar ya, menurutku yang paling kamu butuhkan saat ini adalah orang-orang baik yang mempunyai satu tujuan, untuk terus berkembang. Lebih baik kamu habiskan buku-buku kakakmu atau film-film yang belum sempat kamu tonton dari dulu, daripada rajin berkhayal setiap hari tentang; mungkin saja hari ini adalah hari dimana aku akan bertemu dengan pangeran pujaan  hati (sudah kubilang, jangan percaya dongeng apalagi dongeng tentang pangeran berkuda putih).

Sudah ah, kira-kira begitu. Sudah aku sampaikan semuanya, jangan lupa dibalas! Dan jangan lupa bersyukur kamu mempunyai sahabat sepertiku :p
                                                                                                                                  


                                                                                                                                                               Dari sahabatmu,


                                                                                                                                                                          Aku          

18.10.15

Penasaran

    Matamu berkedip, begitu pun aku. Di balik kaca tipis yang menumpu pada hidungmu, aku bisa menakar seberapa hitam warnamu dibanding warnaku. Tak sepekat yang kuduga,  cenderung kecoklatan dengan lingkaran dalam yang lebih gelap, dihiasi detil-detil kecil yang lebih terang di sekelilingnya. Dari sana terpancar cahaya yang begitu teduh dan menghanyutkan. Tanpa sadar membuat kita sepakat untuk memulai sebuah perbincangan tanpa kata. Diam-diam bertukar sapa, berbagi kabar, bercerita. Pelan-pelan memberanikan diri untuk saling menerka rasa, memburu celah untuk menyelipkan asa di antara tanda dan tanya. Semua terbungkus rapi dalam sebuah rahasia, tak akan ada yang tahu. Hanya kita berdua yang mendengar betapa suara hati bisa sangat berisik di lintasan sepanjang tiga petak ubin besar. Kemudian matamu berkedip untuk kedua kalinya, begitu pun aku. Tertegun, ragu-ragu mengakui bahwa satu detik yang tadi memang lebih lama dari biasanya. Lalu kita sama-sama memalingkan wajah, menatap langit-langit, menghela napas panjang dan kembali melangkahkan kaki. Seketika kesunyian kembali mengisi tiap sudut ruang. Ah, tampaknya semua imaji memang harus diakhiri dengan, “Mungkin hanya perasaanku saja...”

26.1.15

10 Menit


  Ada sepuluh petak keramik melintang ke selatan, sementara delapan belas petak lainnya membujur ke timur. Keramik berwarna putih kecoklatan dengan semburat merah di tiap sisinya tampak sama dari sini. Padahal jika dilihat dengan seksama, tiap coraknya sama sekali berbeda. Ada yang menyerupai kumis kucing tanpa mata, ada yang seperti balon ada pula yang mirip wajah Ibuku. Jika ingin mengamati lebih dalam lagi, ada beberapa keramik yang bolong-bolong. Dari sana  keluar semut hitam yang berukuran lebih besar dari semut merah bergantian dengan semut hitam yang berukuran lebih kecil dari semut merah, masuk ke dalam membawa serpihan-serpihan bahan pangan. Begitu terus sampai nanti.

  Tiba-tiba cicak mendekati salah satu lubang hitam tersebut, merayap pelan-pelan lalu tiba-tiba menyergap kawanan semut hitam malang. Si cicak dengan santainya menjilati lubang beserta semua isinya dengan cekatan. Setelah itu cicak berlari ke tembok putih yang berada sekitar delapan meter dari tempatku sekarang duduk. Cicak lalu menembus celah eternit yang mulai keropos diserang jamur warna hitam. Dari sana terdengar cekikiknya, tentu saja bersama kawan-kawan lainnya.

  Eternit yang mulanya putih, kini sedikit kekuningan. Kadang hujan terlalu jahat menyerang atap rumahku yang sudah tua, sehingga airnya masuk lalu menetes sedikit demi sedikit ke badan eternit. Eternit yang mulanya muda pun kini menjadi ikut-ikutan tua. Begitu pun aku yang nantinya berumur enam puluh tahun, keriput sana-sini memenuhi sekujur badan, karena dimakan usia. Lalu nanti cucuku bertanya mengapa pesawat bisa terbang atau bagaimana cara menirukan suara kucing. Lalu setelah lelah berulang-ulang menjawab aku mengembalikan tubuh mungil itu ke gendongan Ibunya yang tak lain adalah anakku.

  Bagaimana ya rasanya menjadi tua? Nanti sudah tidak bisa berlari sana-sini, berjalan pun lambat. Teman-teman ada yang pergi lebih dulu, ada yang masih hidup tapi juga tak akan sering bertemu. Nanti makan jadi susah, tak bisa mengunyah makanan enak; bisanya makan bubur. Bagaimana ya rasanya menjadi tua?

  Aku memegang helai-helai rambutku. Masih hitam, untungnya masih hitam.
  “Jangan tiba-tiba menjadi putih yaa..”
  Sembari mengusap-usap segenggam rambut dengan jari-jari tanganku, terlihat sesuatu berwarna merah muda bergerak memutar ke arah bawah. Rupanya jarum detik jam dinding kamarku. Jarum menit yang tadi terdiam di angka tiga akhirnya memutuskan untuk transit di angka lima. Rupanya sudah sepuluh menit. Terdengar teriakan Ibuku yang memanggil berulang-ulang, menyuruhku untuk segera mandi, tanpa alasan lagi.

27.11.14

Di Suatu Perjalanan

    Dan pagi masih sepi. Aku berjalan menuju cahaya temaram di perempatan ujung jalan. Lampu jalan yang tampak reyot, memancarkan sinar kuning yang begitu hangat. Sesekali jangkrik berderik. Sesekali kereta api berlari bersama angin, menyapa langit dengan sapaan merdu peluit. Masih ada bulan setengah lingkaran terpasang di antara awan hitam. Selebihnya sunyi.

   Bukannya benci keramaian, tapi aku hanya kebetulan sendiri. Sepi tidak terlalu menggangguku. Dan sendiri bukan berarti sepi. Banyak hal yang bisa aku lakukan untuk menciptakan keramaian dalam sepi. Salah satunya dengan bersenandung. Mengeluarkan gelombang bunyi yang tersusun rapi, terseok-seok mencari celah diantara jangkrik, langkah kaki dan hembus angin. Dengan begitu kesunyian akan lenyap. Mereka akan hilang bersama keramaian yang kuciptakan. Pelan-pelan menghapus kesendirian. Namun entah mengapa aku justru merasa semakin sepi.

   Sejujurnya aku tak begitu paham arti dari kesendirian itu sendiri. Bagaimana kesendirian selalu dikaitkan dengan sepi, atau bagaimana keramaian selalu dikaitkan dengan kebahagiaan. Apa mungkin aku terlalu bodoh untuk memahami hal yang paling wajar dimengerti oleh semua orang? Atau aku adalah orang jenius yang pertama kali menanyakan arti kesendirian? Entahlah. Aku tidak terlalu memusingkan apa jawabnya. Aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya kesendirian dalam sepi dan bagaimana rasanya kesendirian dalam bingar. Kesendirian mana yang lebih menyiksa? Atau keduanya sama-sama sangat menyiksa? Jika keduanya berhasil menyiksaku, apakah itu artinya aku menjadi orang yang paling malang? Apakah itu artinya aku menjadi orang yang paling mengerti kesendirian? Jika iya, bukankah aku semestinya bahagia, karena berhasil menjadi satu-satunya orang yang mengetahui rahasia dari misteri kesendirian? Ah, mungkin saja hanya khayalku yang selalu mengidamkan kebahagiaan, padahal yang aku punya hanyalah kesendirian. Lalu aku menganggap bahwa menjadi orang yang paling dekat dengan kesendirian adalah salah satu bentuk dari kebahagiaan. Ah, sudahlah. Segala kesendirian ini terlanjur membawa pikiranku berkelana terlalu jauh. Sepertinya sudah cukup bagiku untuk mempertanyakan apa itu kesendirian, sepi, keramaian dan keterkaitannya.

   Langit mulai berwarna. Cahaya kuning temaram yang sedari tadi semakin redup, kini tergantikan oleh semburat rona merah di ufuk timur. Kakiku sudah lelah melangkah. Pun pikirku. Aku berdiam sejenak, berkutat dalam tanda tanya yang tak lelah membujukku untuk segera memilih jalan pulang. Dengan hela napas panjang, kuputuskan untuk mengambil arah kiri, sembari memikirkan apa arti dari kebahagiaan.

18.7.14

Perbincangan di Bulan November (bagian kedua)

       Semestinya dia sudah berada di bangku nomor tiga dari gerbang taman di utara kolam air mancur. Arlojiku sudah menunjukkan pukul lima sore. Tapi dia tak kunjung menampakkan diri. Padahal aku sudah menyiapkan segala kata-kata yang sedemikian rupa kurangkai dalam suatu skenario dialog pembelaan. Aku sudah susah payah menghapalkannya dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan arah improvisasiku. Yah, tapi apa gunanya jika ia tak kunjung datang? Akhirnya, dengan bersungut aku pun melangkah pulang. Diiringi detik-detik kecil arlojiku yang bergerak menuju angka delapan.

Seharusnya aku tahu ini sia-sia. Ini sudah hari ketiga semenjak hari dimana aku dipermalukan. Sampai-sampai aku menyiapkan lebih dari dua naskah monolog. Hahaha, sungguh aku semakin malu pada diriku sendiri. Sebenarnya aku tak mengerti apa yang aku lakukan. Mengapa aku begitu percaya kepada seseorang yang tak kukenal yang bahkan mempermalukanku pada percakapan pertama? Sebegitu besarnya kah rasa penasaranku untuk menguak misteri di balik sorot matanya yang begitu tidak biasa? Kurasa memang benar. Dan karena itulah saat ini senyumku mengembang dengan segera ketika sosok bayangan itu melangkah kemari. Rambutnya yang sedikit acak-acakan, tampak kecoklatan diterpa senja. Langkah yang ringan namun pasti semakin mendekat. Kedua tangannya bersembunyi di balik hangatnya saku jaket hijau tua. Dia tersenyum, lalu duduk dengan santai tepat di sebelahku.

“Tampaknya kamu begitu bahagia melihatku. Benar kan?”

“Maaf?”

“Hahaha… Sudahlah, tak usah berpura-pura. Kamu pikir aku bodoh ya?”

“Bagaimana bisa anda berkata begitu?”

“Jangan kira aku tak tahu apa yang kamu lakukan selama ini.”

“Memangnya saya melakukan apa ya? Sesuatu yang membuat anda terlihat bodoh? Justru saya yang seharusnya marah karena tempo hari anda mempermalukan saya!”

“Ah, apa maksudmu tentang kesunyian yang aku pertanyakan? Hahaha… Jadi kamu merasa tersindir atas kesunyianmu? Begitu? Lalu karena kesunyianmu teramat nyata, kamu kesal lalu merasa berhak marah pada orang asing yang berkata jujur?”

“Saya sungguh tak paham dengan apa yang anda bicarakan!”

“Hei, jangan sewot begitulah… Dan yang lebih penting, hentikan berbicara dengan tutur saya-anda. Bukankah kita telah saling mengenal? Bukankah kita sangat akrab?”

“Bagaimana bisa anda, maksud saya, kamu berbicara seperti itu? Sejak kapan kita sama-sama merasa sudah saling kenal? Semua yang kamu katakan sepertinya omong kosong.”

“Jadi begitu, sepertinya kamu benar-benar menganggapku bodoh.”

“Bagaimana mungkin ka…”

“Tentu saja mungkin! Sudah kubilang kan, aku tau apa yang kamu lakukan. Bukankah kamu seseorang yang selalu memperhatikanku dari kejauhan ketika aku duduk di bangku nomor tiga dari gerbang taman di utara kolam air mancur? Bukankah kamu seseorang yang selalu menerka berbagai hipotesis ketika melihat sorot mataku yang… katamu sungguh tak biasa? Bukankah kamu seseorang yang…”

“Sebenarnya, siapa anda?!”

“Maksudmu, ‘siapa kamu’?”

“AH!”

“Hahaha… Padahal sudah kuberi waktu tiga hari supaya kamu bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik untuk hari ini, lebih tepatnya percakapan ini. Tapi sepertinya kamu belum siap berbincang denganku ya? Sayang sekali, kupikir kamu orang yang cepat belajar…”

“Seberapa jauh kamu mengenalku?! Bagaimana kamu bisa mengenalku sedangkan aku sama sekali tak mengenalmu?! Mengapa bisa begitu?! Hah?!”

“Selain bodoh dan sombong, tampaknya kamu juga tidak santai ya…”

“TOLONG JAWAB PERTANYAANKU, ORANG ASING!”

“Kamu berharap aku menjawab apa? Bukankah katamu, apa-apa yang kukatakan hanyalah omong kosong belaka?”

Aku tersentak, diam dalam kebisuan. Percakapan kedua ini akhirnya ditutup dengan cara yang sama. Lagi-lagi dia berhasil mempermalukanku dengan kata-kata indah namun menyakitkan. Ah, rasanya aku ingin menghilang di hadapannya. Hal apa yang lebih memalukan dari ‘dipermalukan oleh orang asing yang sok tau’, dua kali? Terlebih dia orang asing yang tau segalanya tentangku. Bagaimana bisa hal-hal yang tidak masuk akal ini terjadi?

17.7.14

Perbincangan di Bulan November (bagian pertama)

 Terlalu banyak pertanyaan yang mengusik pikiranku. Tentang secangkir kopi hitam yang lambat laun mendingin, tentang senja yang meronakan jingga di pantulan kaca, tentang cekikik cicak tanpa jeda di dinding teras rumahku. Aku terbiasa menanyakan sesuatu yang sepertinya tidak terlalu membutuhkan jawaban. Aku terlanjur menikmati proses ketika curiga behasil merasuk pikiranku, lalu bertengkar dengan ingatan-ingatan di kepalaku dan akhirnya terhenti pada sebuah pertanyaan. Pertanyaan sepele yang dirancang sedemikian rupa agar bisa diperdebatkan. Pertanyaan yang akhirnya selalu menyita senja hingga malam tiba.

Semakin banyak pertanyaan memenuhi pikiranku. Sebenarnya kesal juga ketika terlalu banyak butir-butir tanda tanya di dalam daftar yang harus dijawab. Bagaimanapun, aku punya bagian kehidupan lain yang harus dilakoni selain bertanya dan menjawab. Mungkin kecintaanku pada rutinitas ini terlampau besar hingga meredam amarah yang seharusnya meledak. Bayangkan saja, ketika kamu telah bersusah payah mempertemukan kelegaan dengan kesangsian sepanjang malam, di pagi harinya justru mendapatkan kesangsian yang lain. Menjengkelkan memang, bermain dengan permainan yang selamanya akan mempermainkan pikiranku. Tapi entah mengapa, tak pernah bisa benar-benar kubenci. Sungguh, aku tidak bohong.

Mungkin semua bermula ketika tokek di langit-langit rumah berhenti bersuara. Saat itu aku masih sibuk dengan beberapa tugas kuliah yang menumpuk. Jam dinding menunjukkan angka sebelas. Masih terlalu awal untuk tidur karena banyak hal yang belum diselesaikan. Tentunya dibantu dengan secangkir kopi hitam tanpa gula. Rasa pahit yang tercecap adalah momen sederhana paling manis di dunia. Bagaimana tidak? Tingkat kepahitan paling pahit dari secangkir kopi tanpa gula seolah menyadarkan manusia bahwa pahitnya kehidupan tidak ada artinya. Ada kalanya manusia membesar-besarkan masalah yang menimpanya, memaki atas nama keadilan kepada Tuhan, mengumpat sepenuh hati supaya orang lain acuh. Merasa menjadi orang paling malang, merasa terjebak dalam pahit  yang paling pahit. Padahal secangkir kopi hitam tanpa gula hanya diam. Padahal secangkir kopi hitam tanpa gula semestinya adalah kepahitan yang paling jujur.

Begitulah, aku terbiasa berpikir dari hal kecil di sekitarku. Jika secangkir kopi hitam tanpa gula saja bisa menyita perhatianku, bagaimana dengan para manusia? Makhluk yang selalu kutemui setiap waktu. Makhluk yang sangat beraneka ragam, tak ada yang persis satu sama lain. Membuat penasaran, menimbulkan lebih banyak kegelisahan daripada hal lain yang bisa dijadikan objek permainan bertanya dan menjawab. Itulah alasan mengapa aku begitu senang mengamati manusia. Tiap manusia adalah hal kecil yang mempunyai detil-detilnya sendiri, memancarkan keunikan seolah berkata “Kemarilah, kau pasti ingin tahu kan?”

Permainan kesukaanku ini tak pernah mempunyai batasan waktu. Tiap objek yang kujadikan bahan mempunyai porsi masing-masing untuk bertemu dengan jawabannya. Perlu waktu singkat untuk memecahkan teka-teki mengapa kicau burung pipit di pagi hari terasa begitu merdu, mengapa bunga matahari di taman rumahku layu, mengapa lumut di tembok pagar menyerupai wajah serigala jahat. Berbeda dengan manusia yang selalu menghabiskan waktu lebih lama. Apalagi dengan manusia yang akhir-akhir ini kerap aku temui di penghujung sore. Seingatku, dia selalu duduk di tempat dimana aku bisa memperhatikannya dengan seksama. Dia laki-laki perokok yang suka melamun. Mungkin dia sama sepertiku, diam-diam hanyut dalam keheningan untuk meredakan kegundahan. Namun, ada yang lain dari caranya menyoroti kerumunan manusia yang lalu-lalang. Tatapannya menyiratkan begitu banyak emosi dalam satu waktu. Inilah yang membuatku terpacu untuk memburu alasannya. Mungkin ini akan menjadi permainan yang paling mengasyikkan.

Tak disangka, tiba-tiba dia menatapku lekat-lekat. Astaga, rupanya dia awas akan kehadiranku. Aku terpaksa diam, tak berkutik barang berkedip sekalipun. Dalam sekian detik, jarak mataku dan matanya menjadi sekilan tangan. Aku kikuk dan lagi-lagi hanya bisa terdiam.

“Sesunyi itukah?”

Aku masih membisu, dengan kebingungan yang makin menjadi.

“Sesunyi itukah, kamu?”

Sial, aku hanya menatapnya dan membiarkan kata-kata yang seharusnya keluar, tertahan di kerongkongan. Akhirnya perbincangan sepihak yang memalukan pun berakhir. Dia beranjak entah kemana, mengejar mentari yang hilang ditelan malam. Angin lalu berhembus lembut, menerpaku yang terpaku dalam kebekuan.

17.4.14

Kotak Hitam



  Entahlah, aku tak bisa mengingat semuanya dengan sempurna. Aku hanya ingat ketika rintikan hujan terjun perlahan-lahan, dengan hati-hati ke tanah kering di taman kecil depan rumahku. Taman mungil sederhana, tampak sesak dengan bunga warna-warni dan rumput liar yang saling berdesakkan. Mereka tampak bahagia ketika harus beradu dengan serbuan titik-titik air dari langit yang menghujam tanpa ampun. Hmm... meskipun ada sebagian dari pasukan hujan yang lebih memilih untuk terjun secara gemulai dan anggun. Ya, mereka dengan luwesnya merambat di kaca bagian luar dari jendela ruang tamu, mengalir tepat di depan kedua bola mataku. Di depan kedua bola mataku yang menatap jauh ke luar rumah. Jauh ke sana, entah kemana. Sangat jauh hingga semuanya terasa kosong dan tak nyata. Begitulah. Begitulah caraku menghabiskan sisa senja hingga gelap menceraiku dari tatapan kosong.

  Sudah kubilang berulang kali kan? Tak ada lagi yang bisa kuingat selain hujan dan tatapan kosongku. Sungguh, semua terjadi begitu saja, berlalu dengan cepat tanpa menyilakanku untuk mengingat semua peristiwa yang seharusnya bisa kuceritakan kembali padamu. Aneh, memang. Aku pun heran mengapa hanya bagian itu saja yang tak bisa kuingat, barang secuil pun. Bagian yang entah mengapa, aku tahu itu terjadi tapi aku tak tahu apa yang terjadi. Hilang ingatan? Mungkin. Tapi sepertinya terlalu berlebihan karena aku hanya lupa pada satu kenangan. Satu kenangan yang seolah-olah ingatanku menolak untuk membahasnya lagi, merundingkannya apalagi menceritakan ulang padamu. Hmm... Sebentar, beri aku waktu sejenak untuk memikirkan suatu cara. Mungkin saja ini adalah cara terbaik untuk memecahkan teka-teki kenangan yang hilang. Begini, bagaimana jika aku berunding dengan ingatanku terlebih dahulu, berdua saja? Benar-benar perbincangan intim antara aku dan ingatanku supaya ingatanku mau merundingkan kenangan yang hilang agar nantinya kenangan yang hilang itu bisa kuceritakan kembali padamu. Bagaimana? Bukan ide yang buruk kan? Apapun hasilnya, berhasil atau tidak itu bukan urusanku. Aku hanya berusaha membujuk ingatanku supaya mau membongkar rahasia terbesarnya. Rahasia terbesar yang disembunyikan rapat-rapat hanya untuk menghilangkan sosok kenangan yang sebenarnya masih ada. Entah, kenangan macam apa yang berani-beraninya membuat ingatanku begitu ketakutan, bahkan hanya untuk mengakui keberadaannya. Sampai berpura-pura lupa, berpura-pura tak pernah tahu, repot-repot mencari sudut tergelap untuk menyembunyikan kenangan sial itu. Ah, mengapa jadi jengkel begini ya? Huh.

  Hujan sepertinya masih marah. Entah marah pada siapa, karena apa dan sampai kapan. Aku hanya penonton dan tugasku sangatlah sederhana. Ya, menyimak bagaimana tetes demi tetes air itu jatuh, menerka nada yang mungkin tercipta dari cipratannya, menikmatinya. Menikmati tiap fragmen dalam peristiwa hujan. Menikmati dari bangku utama, bangku yang diatur sedemikian rupa agar posisi paling nyaman bisa didapatkan. Bangku sederhana dari kayu jati berumur ratusan tahun, tanpa bantalan dan ukiran yang berlebihan. Bangku coklat keemasan yang sengaja diletakkan di balkon putih. Satu-satunya bangku yang dipasangkan dengan meja tanpa laci di sebelah kanannya. Bangku kesayangan yang tak pernah bosan menjadi teman baik di suasana yang sama. Suasana yang tercipta ketika hujan deras turun di malam hari, saking derasnya sampai-sampai cekcok dahsyat tetangga sebelah pun tak terdengar. Kejadian yang sama, berulang-ulang tapi bangku seolah tak jenuh apalagi protes. Tidak seperti ingatanku yang kini sedang mengomel tanpa henti karena jengkel dengan segala bentuk interogasi. Hahaha... Tampaknya aku harus berhenti sejenak agar ingatanku pun berhenti merajuk. Baiklah, tiga belas hari sudah lebih dari cukup untuk tahap awal misi ini. Kira-kira seminggu lagi aku akan mencoba cara lain yang jauh lebih baik. Cara paling ampuh untuk melumpuhkan segala bentuk pertahanan ingatanku. Yap, pasti ada cara terbaik untuk menemukan identitas kenangan yang terkekang tanpa celah. Tujuh hari lagi dan semuanya akan jelas, tujuh hari lagi.

  Hari ini hujan tidak datang. Sudah empat hari berlalu sejak hari terakhir aku duduk di balkon. Karena tidak ada hujan maka tempat paling nyaman untuk menghabiskan siang adalah kamar tidur. Ruang pribadi dengan jendela setengah lingkaran yang terpasang apik di dinding biru muda pastel, dilengkapi pendingin ruangan dan televisi persegi panjang tipis. Di salah satu sudut ruang, meja kecil merah muda terlihat sangat manis. Di sudut lain, almari putih tulang tampak menawan dengan kesederhanaannya. Dan di atas kasur berkualitas super inilah tempatku merebahkan diri, menengadahkan kepala memandang langit-langit berhias lukisan gumpalan awan. Sungguh, tak ada siang yang lebih surgawi daripada saat ini. Semuanya sangat sempurna. Membuatku tak ragu untuk mencoba memejamkan mata. Perlahan-lahan, memikirkan cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan. Sesekali kelopak mataku memberanikan diri untuk mengintip detik jam dinding meski dengan gelagatnya yang malu-malu, sambil terus menahan kantuk. Tepat ketika jarum penunjuk menit berada di antara angka tiga dan empat, akhirnya aku terlelap. Memasuki dunia gelap dan fana, memulai sebuah fantasi yang dirangkai dalam alur cerita tak terduga. Awalnya hitam, lambat laun menjadi abu-abu lalu putih menyilaukan. Beberapa saat terhenti di latar putih lalu beralih ke suatu fokus. Dataran antah-berantah, sangat luas berselimut rerumputan hijau pada bukit-bukitnya. Sendirian, di tempat asing tanpa satupun papan penanda lokasi. Senyap, tak ada suara sama sekali. Kosong, benar-benar tak ada jejak kehidupan. Hampa. Bingung. Hampa. Kesal. Hampa. Sedih. Hampa. Takut. Hampa. Takut. Takut. Takut dan takut. Aku sangat takut. Apa yang harus kulakukan? Mengapa tiba-tiba berada di sini? Adakah pintu keluar? Bagaimana cara mencarinya? Tolonglah, siapapun jawab aku. Tolong!

  Hitam, semuanya tampak hitam. Membuka dan memejamkan mata pun tak ada bedanya. Hanya hitam, hitam dan hitam. Rasanya aneh, sungguh. Melayang-layang di udara, raga seolah larut dalam gelap. Perasaan yang sama di tempat berbeda. Ya, ketakutan yang sama masih saja menghantui bahkan semakin menjadi di dalam gulita. Sial, rupanya aku tersesat terlalu jauh. Bagaimana bisa begini ya? Sialan! Semakin lama aku justru semakin muak! Aku harus marah pada siapa?! Siapa yang harus kusalahkan?! Siapa hah?! Siapaaaa?!

  “Dirimu sendiri…”

  “??!!”

  “Dirimu sendiri yang salah, dasar tolol.”

  “Hah?!”

  “Hahaha…”

  “Sialan! Keluar kau! Jangan hanya sembunyi!”

  “Bukannya tidak mau, aku hanya takut.”

  “Maksudmu?!”

  “Ah… Kamu tidak berubah ya... Masih sama, masih selalu tunduk dan patuh pada emosi. Sudah kubilang kan, aku terlalu takut untuk menampakkan diri. Takut untuk membuatmu semakin takut.”

  “Tak usah basa-basi, kampret!”

  “Hmm… Bagaimana ya? Tapi jangan salahkan aku, ini maumu sendiri lho…”

  Sejenak suasana kembali hening. Degup jantung yang diburu kecemasan terpaksa mengisinya. Aku tidak bisa melakukan apapun lagi, hanya diam dan menunggu sesuatu yang menakutkan benar-benar terjadi. Dari kejauhan, entah dari sudut sebelah mana, sayup-sayup terdengar suara bising. Dengan tiba-tiba mendekat sangat cepat lalu berdentum keras di telingaku. Seketika cipratan merah menyala dalam gelap, lalu berubah menjadi pasang-pasang mata yang berkedip dan memelototiku. Terus dan terus menatapku tajam hingga terdengar suara tawa terbahak-bahak. Tak lama, suara perbincangan dan gurauan menambah hiruk pikuk. Teriakan dan makian pun turut membuat suasana semakin berisik. Semua membaur menjadi satu, berulang-ulang dengan tempo yang dipercepat. Hingga akhirnya lengkingan teriakan panjang memecah suasana. Isak tangis yang meledak lalu menutup semuanya. Menutup semua suara-suara berisik, semua percakapan-percakapan, semua janji dan canda tawa yang pernah didengar dan diucap. Menutup semua kata yang datang dari masa dimana segalanya begitu indah dan menyenangkan. Repot-repot datang kemari hanya untuk menyapaku, dengan bentuk yang sama sekali berbeda.

  Terik mentari semakin menyengat. Dengan segera aku membuka mata, terbangun dari mimpi buruk tentang masa lalu. Kaget, mengapa aku berada di balkon? Bukankah seharusnya aku tertidur di kamar? Bagaimana bisa begini? Aneh, sungguh aneh. Apa mungkin aku benar-benar hilang ingatan? Atau memang ada yang sengaja mengerjaiku? Siapa? Bukankah aku hanya sendiri di sini? Ah, sudahlah. Mungkin aku terlalu lelah, hingga tak bisa mengingat bagaimana semuanya bermula. Aku segera beranjak dari lantai balkon. Lantainya sedikit basah, menyisakan semburan air hujan yang entah turun kapan. Sambil berlalu, kutengok meja di sudut balkon. Aku terdiam sesaat, penuh curiga dan tanda tanya. Semakin lekat aku menatap, semakin langkahku mendekat. Rupanya memang benar, benda yang terbuat dari kayu berbentuk kubus dengan balutan hitam pekat itu benar-benar ada. Di depan mataku tersuguh kenyataan yang paling ingin aku ingkari. Kenyataan yang berhasil membohongiku di masa lalu. Kenyataan yang sebelumnya telah berhasil disembunyikan dengan rapi oleh ingatanku sehingga aku tak menyadarinya. Kenyataan yang merupakan jawaban dari teka-teki yang selama ini aku selidiki dengan susah payah. Kenyataan yang pada akhirnya ingin aku musnahkan.

  Angin berhembus lembut di sela langkah kakiku. Aku beranjak, pergi meninggalkan kotak hitam itu sendirian. Mulai berkelana untuk mencari dan menemukan kotak lain. Kotak kosong yang nantinya dipenuhi dengan berbagai hal baru. Kotak yang mungkin saja berakhir sama, menjadi hitam. Mungkin juga berakhir untuk menjadi yang terakhir. Tenang, semua hanya masalah waktu. Aku hanya perlu mengingkari lelah dan melanjutkan langkah. Langkah kaki yang tak terasa sudah semakin menjauh dari balkon rumahku. Dari sana aku mendengar kotak hitam itu berbisik.

  “Kau membenciku?”

  “Tentu saja.”

  “Begitukah?”

  “Ya.. Dan cara terbaik untuk membencimu adalah dengan tidak membencimu.”